Jumat, 28 Mei 2021

TUGAS MANDIRI 4 ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR (SEMESTER GENAP)KAMPUS MILLENIAL ITBI

Nama : Mutiarani Sinaga 
Jurusan : Sistem Informasi
Kelas  : Malam

SOAL : 
1. Coba saudara jelaskan faktor-faktor yang mendorong lahirnya Budaya ? 
2. Coba perhatikan disekelilingmu Dan deskripsi kan sejarah kebudayaan yang ada di daerah mu ! 

JAWABAN : 
1. Faktor pendorong lahirnya budaya yaitu
• Manfaat: adanya manfaat bagi kehidupan manusia
• Pengetahuan: suatu syarat untuk mencapai kemajuan cara berpikir sehingga menghasilkan suatu karya yang berinovasi
• Demi keindahan dan permainan: dari pengetahuan yang matang dan inovatif akan menghasilkan keindahan dan terus berkembang sehingga menjadi suatu permainan yang terus berkembang, dan timbulnya nilai nilai kenyataan yang berdampak bagi kehidupan manusia.
• Demi nlai-nilai realitas yag dikandung olehnya:dari paduan-paduan factor-faktor diaas akan mendapatakn peliaian yang dikangung oleh mayarakat karna adanya kebudayaan yang lahir.
Contoh:
Motor:motor sangat manfaat dalam kehidupan sehari-hari sehingga mayoritas mansia mnggunakan dan banyak model motor misalnya dari zaman kebanyakan manusia menggunakan motor vespa mnjadi motor kuno dan sekarang semakin brkembang banyak orang yang menggunakan motor ninja,tiger dan motor metik .
Faktor Pendorong Terjadinya Budaya : 
✓ Niat masyarakat untuk melestarikan budayanya.
✓ Adanya gererasi penerus yang mau meneruskan suatu budaya.
✓Adanya rasa cinta terhadap budaya di dalam diri manusia.
✓ Keinginan masyarakat untuk menjaga kelestarian suatu budaya agar tidak hilang.
✓ Terjadinya perubahan lingkungan hidup yang mendukung berkembangnya suatu budaya.

2. Selain suku Jawa , suku Simalungun lebih dominan di daerah saya berikut deskripsi nya mengenai suku Simalungun : 

✓  Suku Simalungun (surat Simalungun: ᯅᯖᯃ᯳ ᯙᯫᯕᯟᯮᯝᯮᯉ᯳) adalah salah satu suku yang berada di provinsi Sumatra Utara, Indonesia, yang menetap di Kabupaten Simalungun dan sekitarnya. Beberapa sumber menyatakan bahwa leluhur suku ini berasal dari daerah India Selatan tetapi ini hal yang sedang diperdebatkan. Sepanjang sejarah suku ini terbagi ke dalam beberapa kerajaan. Marga asli penduduk Simalungun adalah Damanik, dan 3 marga pendatang yaitu, Saragih, Sinaga, dan Purba. Kemudian marga marga (nama keluarga) tersebut menjadi 4 marga besar di Simalungun.
✓ Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan padi dan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual-beli diadakan dengan barter, bahasa yang dipakai adalah bahasa dialek. "Marga" memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika dibandingkan dengan keadaan Simalungun dengan suku Batak yang lainnya sudah jauh berbeda.
✓ Suku Simalungun menggunakan Bahasa Simalungun (bahasa simalungun: hata/sahap Simalungun) sebagai bahasa Ibu. Derasnya pengaruh dari suku-suku di sekitarnya mengakibatkan beberapa bagian Suku Simalungun menggunakan bahasa Melayu, Karo, Batak, dan sebagainya. Penggunaan Bahasa Batak sebagian besar disebabkan penggunaan bahasa ini sebagai bahasa pengantar oleh penginjil RMG yang menyebarkan agama Kristen pada Suku Ini.

Aksara yang digunakan suku Simalungun disebut aksara Surat Sisapuluhsiah
Kain Adat Simalungun disebut Hiou. Penutup kepala lelaki disebut Gotong, penutup kepala wanita disebut Bulang, sedangkan yang kain yang disandang ataupun kain samping disebut Suri-suri.
Sama seperti suku-suku lain di sekitarnya, pakaian adat suku Simalungun tidak terlepas dari penggunaan kain Ulos (disebut Uis di suku Karo). Kekhasan pada suku Simalungun adalah pada kain khas serupa Ulos yang disebut Hiou dengan berbagai ornamennya.
Ulos pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak, memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar, Muangthai dan Laos, khususnya pada ikat kepala, kain dan ulosnya.
✓ Orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal silsilah karena penentu partuturan (perkerabatan) di Simalungun adalah hasusuran (tempat asal nenek moyang) dan tibalni parhundul (kedudukan/peran) dalam horja-horja adat (acara-acara adat). Hal ini bisa dilihat saat orang Simalungun bertemu, bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” (apa marga anda) tetapi “hunja do hasusuran ni ham (dari mana asal usul anda)?"

Hal ini dipertegas oleh pepatah Simalungun “Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei” (dari Raya, Purba, Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih).

Sebagian sumber menuliskan bahwa hal tersebut disebabkan karena seluruh marga raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep perkawinan antara raja dengan “puang bolon” (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanan Silappuyang, Raja Panei dari Putri Raja Siantar, Raja Silau dari Putri Raja Raya, Raja Purba dari Putri Raja Siantar dan Silimakuta dari Putri Raja Raya atau Tongging.

Adapun Perkerabatan dalam masyarakat Simalungun disebut sebagai partuturan. Partuturan ini menetukan dekat atau jauhnya hubungan kekeluargaan (pardihadihaon), dan dibagi kedalam beberapa kategori sebagai berikut:

• Tutur Manorus / Langsung
Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.
• Tutur Holmouan / Kelompok
Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun
•Tutur Natipak / Kehormatan
Tutur Natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ULANGAN AKHIR SEMESTER GENAP (SEMESTER 2 ) KALKULUS - KAMPUS MILLENIAL ITBI

Nama: Mutiarani Sinaga  Jurusan : Sistem informasi Kelas : Malam