Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 hampir dipastikan negatif. Belum tuntasnya penanganan pandemi korona menjadi faktor utama kinerja perekonomian nasional sulit ke level positif.
Pelonggaran aktivitas, bantuan, serta stimulus yang digelontorkan pemerintah selama ini dinilai bertujuan agar perekonomian tidak mati, bukan untuk kembali normal. Sebab, virus korona yang menjadi akar permasalahan penyebab pelambatan aktivitas ekonomi belum tertangani optimal.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE), Piter Abdullah, menilai, selama wabah virus korona masih belangsung, perekonomian masih akan tumbuh negatif.
“Kalau mendorong perekonomian sampai positif tidak mungkin. Jadi tujuannya adalah untuk menyelamatkan masyarakat supaya tetap bertahan hidup,” kata Piter.
Meski begitu, pemerintah tetap harus melakukan perluasan bantuan maupun stimulus kepada masyarakat yang benar-benar terdampak pandemi, agar dapat menggenjot konsumsi.
Terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi Agustus 2020 kembali menunjukkan angka deflasi. Itu artinya deflasi sudah terjadi dalam kurun waktu dua bulan berturut-turut.
Tandanya, permintaan konsumsi masyarakat masih lemah, yang terlihat dari turunnya berbagai harga komoditas utama. Bahkan, pengeluaran makanan, minuman dan tembakau, serta transportasi yang biasanya menjadi penyumbang utama inflasi, kini jeblok.
Di sisi lain, data Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia memang terlihat sudah mulai menanjak sejak April lalu. Namun, perbaikan aktivitas manufaktur Indonesia masih didominasi oleh permintaan dalam negeri, itu pun masih terbatas. Sedangkan permintaan ekspor masih melemah karena pandemi korona.
Aktivitas manufaktur dinyatakan tumbuh positif jika nilai indeks berada di atas 50. Sementara itu, PMI Indonesia per Agustus 2020 baru berada di level 50,8, atau sedikit diatas ambang positif.
PMI adalah indikator ekonomi yang dibuat dengan melakukan survey terhadap sejumlah perusahaan di berbagai sektor bisnis. Angka indeks PMI yang tinggi menunjukkan optimisme pelaku bisnis terhadap prospek perekonomian ke depan.
Oleh karena itu, pemerintah melalui Menteri Keuangan, Sri Mulyani memperkirakan Indonesia akan mengalami pertumbuhan negatif di tahun ini. Jika pun bisa positif, peluangnya kecil, dan hanya tipis di atas ambang batas.
Terkini, Sri Mulyani memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini berada di kisaran minus 1,1 persen hingga 0,2 persen. Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan prediksi pemerintah sebelumnya yang berada di kisaran minus 0,4 hingga 2,3 persen pada periode Maret sampai April.
“Perkiraan ini sesudah melihat realisasi pertumbuhan ekonomi di kuartal II/2020. Kami perkirakan untuk pertumbuhan 2020 di range minus 1,1 persen sampai 0,2 persen. Artinya agak geser ke arah negatif atau mendekati nol," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam keterangan pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2021, Jumat (14/8/2020).
Untuk konsumsi rumah tangga pemerintah memproyeksi hanya tumbuh di kisaran 0 persen hingga minus 1,3 persen. Kemudian investasi berada di kisaran minus 2,6 persen hingga minus 4,2 persen.
Selanjutnya, ekspor dan impor juga diproyeksi masih berada di zona negatif sepanjang tahun ini. Ekspor berada di kisaran minus 4,4 persen hingga minus 5,6 persen dan impor minus 8,4 persen hingga minus 10,5 persen.
Namun, Sri Mulyani menekankan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini masih akan melihat perbaikan yang terjadi di kuartal III dan IV. Selain itu, perekonomian juga akan dilihat dari penanganan korona yang dilakukan di tahun ini.
"Dengan ketidakpastian 2020 yang masih berlangsung hingga akhir tahun, maka perekonomian kita masih tergantung keberhasilan penanganan korona," ujarnya.
Lembaga internasional sepakat
Senada, berbagai lembaga internasional juga turut merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020. International Monetary Fund (IMF) pada April lalu memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 sebesar 0,5 persen. Namun, pada Juni IMF merevisi proyeksi tersebut menjadi minus 0,3 persen.
Bank Dunia juga demikian. Awalnya, mereka memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,5 persen. Pada Juli, Bank Dunia merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 0 persen.
Country Director World Bank Indonesia Satu Kahkonen mengatakan proyeksi tersebut berdasarkan pada tiga hal. Yang pertama, ekonomi global yang terkontraksi sebesar 5,2 persen karena pandemi korona.
Kedua, karena perekonomian Indonesia kembali dibuka sepenuhnya pada Agustus, sehingga sudah tidak ada pembatasan sosial di berbagai daerah. Ketiga, tidak ada gelombang kedua penularan virus korona. Jika hal itu terjadi, ekonomi domestik akan semakin melambat.
Bank Dunia menyarankan belanja sosial yang tepat sasaran sebagai langkah mitigasi mengurangi dampak pandemi terhadap kemiskinan.
Selain itu, untuk mendukung pembukaan kembali ekonomi yang aman, prioritas tetap pada sistem kesehatan yang kuat. Hal ini membutuhkan peningkatan dalam kapasitas dan kesiapan sistem kesehatan termasuk pengujian. Dukungan bagi sektor bisnis juga diperlukan untuk memulai kembali maupun memperluas produksi secara bertahap.
Revisi juga dilakukan Asian Development Bank, yang pada awalnya memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 sebesar 2,5 persen menjadi minus 1,0 persen pada Juni.
“Pandemi Covid-19 telah menyebabkan gangguan ekonomi yang signifikan secara global dan di Indonesia, dengan dampak yang merugikan pada pekerjaan dan mata pencaharian, terutama di segmen masyarakat yang paling rentan,” kata Direktur ADB untuk Indonesia, Winfried Wicklein.
Berdasarkan analisa ADB, program pemulihan ekonomi akan sangat membantu Indonesia bangkit kembali. “Meskipun pelonggaran pembatasan mobilitas pada awal Juni akan membantu melanjutkan kegiatan ekonomi, ketidakpastian tetap ada,” kata Ekonom ADB untuk Indonesia Emma Allen.
Emma menambahkan, program pemulihan ekonomi pemerintah memberikan tanggapan yang gesit terhadap krisis dengan memanfaatkan teknologi untuk pengiriman yang efisien, memberikan peluang untuk meningkatkan inklusi keuangan dan memperkuat hubungan rantai nilai global.
"Kami memuji upaya pemerintah yang tepat waktu untuk meningkatkan investasi dalam pemerataan infrastruktur digital, mendorong penelitian dan pengembangan, mengintegrasikan pengelolaan data, dan mengembangkan talenta digital — semuanya sangat penting untuk memperkuat prospek pertumbuhan di masa depan,” tuturnya.
Lembaga pemeringkat Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 menjadi minus 0,8 persen pada Juni dari prediksi awal yang tumbuh sebesar 3 persen.
"Turunnya proyeksi disebabkan oleh efek dari Covid-19 yang menekan pertumbuhan ekonomi di semester pertama tahun ini," ujar Vice President Senior Credit Officer Moody's Madhavi Bokil.
Menurut analisa Moody’s, dampak kebijakan antara lain peningkatan defisit fiskal, pemberian bantuan sosial untuk mendongkrak konsumsi rumah tangga diprediksi bisa mengungkit perekonomian Indonesia kembali terutama pada tahun depan.

